22
Okt
09

Gunjang Ganjing NAMRU – a reminder wae

BIN Sudah Lama ‘Cium’ Aktivitas Intel di Namru-2
Kamis, 24 April 2008 – 09:22 wib

JAKARTA – Badan Intelijen Negara (BIN) sudah mencurigai sejak lama aktivitas intelejen Amerika Serikat dalam The Naval Medical Research Unit-2 (Namru-2). Namun, informasi ini tidak ditindaklanjuti oleh pemerintah.

“Sebetulnya intelijen kita sudah lama, bertahun-tahun membicarakan hal itu antar departemen. Teman-teman di inteligen sudah melempar masalah ini kepada pemerintah,” ujar Pengamat Inteligen Wawan Purwanto kepada okezone, di Jakarta, Kamis (24/4/2008).

Dijelaskan peneliti LPKN ini, posisi intelijen hanya sebatas pemberi informasi kepada pemerintah. Mengenai kebijakan, berada ditangan pemerintah. “Soalnya, masalah ini antara government to government,” katanya.

Mengenai MoU baru yang telah diajukan pemerintah RI kepada pemerintah AS terkait keberadaan Namru-2 di Indonesia, Wawan meminta agar pemerintah mengkaji ulang perjanjian tersebut, agar tidak tertutup dan saling terbuka.

“Sebaiknya dikaji ulang, tidak bisa seperti tahun 70-an, sudah berbeda,” pungkasnya.

Sumber : Okezone (http://news. okezone.com/ index.php/ ReadStory/ 2008/04/24/ 1/103436)

DIAMBIL DARI
MAJALAH TEMPO
Edisi. 38/IX/28 April – 04 Mei 2008

Laporan Utama

Panas-Dingin Virus Namru

Namru dituduh melakukan aktivitas di luar penelitian. Sejak sepuluh tahun lalu, sejumlah menteri dan para petinggi lembaga keamanan meminta laboratorium Amerika Serikat di Jakarta itu ditutup. Masalah ini membelah sikap pejabat pemerintah. Kalangan intelijen menuding lingkaran dekat Presiden ikut bermain untuk kepentingan Washington.

Obyek: Azithromycin
Sampel: 300 orang
[225 tentara, 75 penduduk sipil]
Lokasi: wilayah timur laut Papua

SEJUMLAH tentara peneliti itu membagi sampel dalam tiga kelompok berdasarkan asupan dosis azitromisin. Air minum disediakan, biskuit manis ditawarkan. Guna menguji kekuatan obat antibiotik untuk infeksi bakteri ringan dan sedang itu sebagai penangkal malaria, para sampel diambil darahnya.

Begitulah antara lain personel Naval Medical Research Unit No. 2 (Namru-2),yang memiliki laboratorium di Jalan Percetakan Negara, Jakarta Pusat, beroperasi pada 2003. Delapan personel diturunkan ke Papua, ditemani enam peneliti lain, termasuk seorang dari Maryland, pusat lembaga milik Angkatan Laut Amerika Serikat itu. Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah pada tahun yang sama.

Namru 2 kini menjadi sorotan. Selain perpanjangan perjanjian yang mengatur lembaga itu belum jelas, personel warga negara Amerika yang dibekali kekebalan diplomatik juga jadi bahan keberatan beberapa kalangan. Kenapa laboratorium kesehatan di bawah militer? kata Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari. Semua personel mereka masuk kemari menggunakan paspor diplomatik bersampul hitam, kata seorang sumber Tempo di Departemen Luar Negeri.

Privilese ini dampaknya luar biasa. Kalangan intelijen menganggap status
sebagai diplomat membuat semua personel Namru sulit disentuh kegiatan pengamanan. Status itu juga membuat mereka tak bisa dikontrol. Mereka pun leluasa pergi ke pelbagai tempat di Indonesia. Padahal, kata seorang petinggi Badan Intelijen Negara, para personel Namru tetap saja serdadu, yang dibekali ilmu telik sandi. Mereka bisa saja melakukan kegiatan intelijen yang berkedok riset, kata sang petinggi.

Namru 2 punya sejarah panjang di sini. Lembaga ini didirikan pada 1970 berdasarkan perjanjian yang diteken Menteri Kesehatan G.A. Siwabessy dan Francis Galbraith, Duta Besar Amerika Serikat di Jakarta. Ini merupakan jawaban atas permintaan pemerintah Indonesia kepada Washington untuk ikut mengatasi malaria dan campak yang menggila.

Sejak tahun-tahun awal berdirinya, Namru selalu memunculkan desas-desus. Misalnya, disebutkan lembaga itu ikut membantu Orde Baru membersihkan orang-orang Partai Komunis Indonesia. Rumor lain yang beredar: Namru membuat senjata biologis, atau mengambil sampel darah tentara Indonesia. Itu cerita dari para penentang, kata Harry Purwanto, Direktur Amerika Utara dan Tengah Departemen Luar Negeri.

Gosip sangar ini dibantah. Cameron R. Humes, Duta Besar Amerika di Jakarta, memastikan lembaga itu bekerja secara transparan. Jika ingin melakukan kegiatan gelap, kata dia, Namru tidak akan beroperasi di lokasi milik Departemen Kesehatan. Laboratorium ini berlokasi di kompleks Departemen Kesehatan, di seberang penjara Salemba. Di area yang sama berdiri Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular, serta Badan Pengawas Obat dan Makanan.

Laboratorium ini tak terbuka untuk umum. Pada Jumat pekan lalu, ketika Tempo diberi kesempatan masuk, seorang staf keamanan bersiaga di bagian depan. Ia memeriksa tas dan meminta tanda pengenal untuk ditukar dengan kartu tamu. Di lantai dasar dari gedung tiga lantai itu hanya ada sederet ruang kerja dan laboratorium penelitian nyamuk malaria. Ruang pembiakan nyamuk ada di sini.

Seorang staf menunjukkan beberapa lemari dengan sederet wadah plastik. Plastik berisi air yang dipenuhi jentik nyamuk. Di meja ada dua botol berisi jentik Toxorincaitis, jenis nyamuk yang tak mengisap darah dan hidup dari air madu. Jika dibiakkan di bak air, jasad renik ini memakan jentik nyamuk lain, termasuk Aedes aegepty, penyebar demam berdarah. Ini senjata biologisnya, kata seorang staf sambil tertawa-tawa.

Riset, lain tidak, kata staf yang menemani Tempo. Menurut seorang staf warga Indonesia, Namru 2 terdiri dari empat program, yaitu riset yang berkaitan dengan penyakit menular akibat virus, bakteri, parasit, dan wabah penyakit yang belum dikenal. Ada tiga laboratorium di sini, plus satu laboratorium untuk menyimpan hewan percobaan, umumnya monyet.

Program riset Namru, menurut Menteri Kesehatan Siti Fadilah, memang sangat istimewa pada mula lembaga itu berdiri. Tapi tidak untuk saat ini. Sudah kalah dengan Lembaga Eijkman, ujarnya. Eijkman adalah laboratorium biologi molekuler milik Kementerian Riset dan Teknologi yang berada di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Amerika sangat berkepentingan mempertahankan Namru 2. Presiden George Walker Bush pun memasukkan masalah ini dalam pernyataan bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, saat ia berkunjung ke Indonesia, November 2006. Duta Besar Humes beralasan, tentara negaranya banyak terjun ke daerah tropis sehingga perlu mengetahui penyakit menular di daerah itu. Untuk itu Namru 2 sangat diperlukan.

Tapi reaksi Jakarta dalam satu dasawarsa ini berubah. Pejabat Indonesia beberapa kali merekomendasikan penutupan lembaga ini. Pada 9 November 1998, Menteri Pertahanan/Panglima Angkatan Bersenjata Jenderal Wiranto mengirim surat ke Menteri Luar Negeri dan Menteri Kesehatan. Isinya, saran agar pemerintah mengakhiri kerja sama dengan Namru 2.

Tak hanya itu reaksi kontra dari pemerintah. Setahun kemudian, Menteri Luar Negeri Ali Alatas menyurati Presiden B.J. Habibie. Ia menilai keuntungan politis, ilmu pengetahuan, dan teknologi bagi Indonesia semakin kecil. Sedangkan dampak negatifnya terhadap masalah keamanan makin menonjol, Ali Alatas menulis dalam surat tertanggal 19 Oktober 1999.

Ali juga punya alasan tepat. Ia menghubungkan Namru dengan rencana Protokol Verifikasi Konvensi Senjata Biologis, yang ketika itu sedang dibahas di Jenewa, Swiss. Konvensi ini mewajibkan negara yang memiliki fasilitas biologi mendeklarasikan diri. Lalu ada proses investigasi, yang meliputi 500 kilometer persegi di sekitar laboratorium. Karena Namru di tengah kota, ia menganggap seluruh wilayah Jakarta bisa dimasukkan wilayah investigasi. Toh, Namru jalan terus.

Rezim baru juga menolak. Alwi Shihab, Menteri Luar Negeri kabinet Abdurrahman Wahid, mengirim surat ke Duta Besar Robert S. Gelbard pada 28 Januari 2000. Isinya, pemerintah Indonesia menghentikan kegiatan operasional Namru. Tapi ia memberi catatan, Namru bisa dilanjutkan beroperasi melalui perjanjian yang saling menguntungkan. Kesempatan ini langsung disambar Gelbard pada hari yang sama, “Kami siap bernegosiasi.”

Dua bulan kemudian, Alwi mengeluarkan nota diplomatik. Ia meng-anulir suratnya. Ia memutuskan, Indonesia siap merundingkan perjanjian yang baru. Selama perundingan, perjanjian 1970 dinyatakan masih berlaku. Dalam perundingan, pemerintah meminta agar peneliti Indonesia banyak dilibatkan, kata Alwi, ketika dimintai konfirmasi tentang hal ini. Waktu itu Presiden Abdurrahman terus-menerus dilobi pihak Amerika melalui Menteri Alwi, kata sumber Tempo.

Sejak itu dilakukanlah serangkaian pertemuan antara delegasi Indonesia dan Amerika: 5 Mei dan 8 Juni 2000, serta 18 Januari tahun berikutnya. Semuanya macet ketika pembicaraan berkaitan dengan status personel. Amerika minta semua warga mereka di Namru diberi imunitas, Indonesia menolak. Alasan mereka, ingin melindungi warganya pada saat krisis, kata Harry Purwanto, yang kini memimpin delegasi Indonesia.

Pernyataan keberatan terus menggelinding. Menteri Hassan Wirajuda, yang menggantikan Alwi di kabinet Megawati Soekarnoputri, pun mengambil sikap. Ia mengirim surat ke Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, Menteri Pertahanan, serta Menteri Kesehatan. Di situ disebutkan, Namru tak pernah melaporkan hasil penelitian sejak 2000.

Pemerintah makin geram lantaran lembaga ini bekerja tak transparan. Hassan menulis pada 25 Agustus 2004, pemerintah dihadapkan pada beberapa penyakit menular seperti demam berdarah dan flu burung. Status bencana nasional untuk demam berdarah pun ditetapkan. Dalam situasi genting ini, Namru ternyata tak melakukan kegiatan penelitian.

Pada saat yang sama, pemerintah mencatat peningkatan kesibukan yang luar biasa di Namru. Lembaga itu makin kencang mengimpor barang keperluan riset seperti obat-obatan, komputer, dan peralatan laboratorium. Tercatat ada 134 kali barang keperluan riset itu masuk lewat tas diplomatik. Barang pindahan untuk staf pun tak sedikit: 21 kali. Hassan merekomendasikan penutupan Namru, segera setelah sembilan proyek yang sedang berjalan usai.

Pemerintahan kembali berganti, dan Namru tetap saja beroperasi. Dua pekan setelah diangkat menjadi Menteri Kesehatan, menurut sebuah sumber di pemerintahan, Siti Fadilah memerintahkan penutupan Namru. Alih-alih membuahkan hasil, ia justru mendadak dipanggil Presiden Yudhoyono ke Istana. Bos besar minta keputusan itu dicabut, kata sumber itu. Menteri Siti akhirnya tunduk dengan perintah Presiden, yang dalam pertemuan itu didampingi staf khususnya, Dino Patti Djalal.

Presiden Yudhoyono meminta hubungan dua negara terus diperkuat, termasuk kerja sama Namru. Ketika menerima Menteri Kesehatan Amerika Michael O. Leavitt pada 17 Oktober 2005, ia berharap Namru bisa meningkatkan kapasitas ahli kesehatan Indonesia dalam menghadapi penyakit menular, termasuk flu burung. Pernyataan
yang sama diulang tatkala Presiden Bush datang ke Bogor, November 2006.

Dari sini perundingan kembali dibuka. Pemerintah membentuk delegasi, yang dipimpin Direktur Amerika Utara dan Tengah. Anggotanya wakil dari Kementerian Politik, Departemen Pertahanan, Departemen Kesehatan, Markas Besar Tentara, Badan Intelijen Negara, juga Kantor Staf Khusus Presiden. Mereka bertemu delegasi Amerika pimpinan John Heffer, Deputi Kepala Misi Kedutaan, pada 9-10 Januari 2007. Heffer ditemani pejabat Namru dan penasihat hukum dari Komando
Angkatan Laut Amerika Wilayah Pasifik, Hawaii.

Tetap saja, perundingan mentok di status diplomat untuk personel. Indonesia hanya memberikan status itu untuk kepala atau direktur Namru dan wakilnya, sedangkan Amerika minta semua personel tanpa kecuali. Ada empat masalah besar lainnya yang jadi ganjalan, menurut Harry, antara lain soal permintaan Indonesia memasukkan klausul Konvensi Verifikasi Senjata Biologis.

Sehari setelah perundingan yang mentok ini, tangan Istana datang. Dino Patti Djalal, staf khusus Presiden, mengirim surat ke Menteri Luar Negeri, Menteri Pertahanan, Panglima Tentara Nasional, Kepala Badan Intelijen Negara, dan Menteri Kesehatan. Ia meneruskan penilaian Organisasi Kesehatan Dunia, yang menyatakan puas atas kerja sama dengan Namru.

Dino dalam suratnya menyatakan Namru sangat bermanfaat bagi Indonesia. Ia pun menganggap ada beberapa kesenjangan, antara lain pandangan Presiden yang menilai Namru sebagai kesempatan dan pihak lain yang menganggap lembaga itu sebagai ancaman. Pandangan ini menganggap Namru sebagai agen CIA, penyebar penyakit menular, dan pabrik senjata biologis sehingga perlu selalu ditekan dan dikucilkan, Dino menulis.

Kalangan intelijen, menurut sumber, tersinggung dengan isi surat itu. Mereka menuduh Dino memainkan kepentingan Amerika, yang ingin mempertahankan Namru dengan pelbagai cara. Dalam sebuah perundingan, Dino pernah datang dan main gebrak meja, dia selalu bicara mengatasnamakan Presiden, yang tetap meminta Namru dilanjutkan, kata sumber Tempo di Departemen Luar Negeri.

Ketika dikonfirmasi soal surat itu, Dino tak membantah atau membenarkan. Saya nggak bisa mengomentari dokumen negara yang bocor, kata juru bicara kepresidenan itu dengan nada tinggi. Membocorkan dokumen negara itu kriminal, bisa ditangkap tuh. Soal tuduhan ia bekerja untuk Amerika, Dino menjawab singkat: Nonsense.

[WMU, Budi Setyarso, Wahyu Dhyatmika, Yugha E., Gabriel Yoga, Bunga M.]

Sejarah Namru

1853
Kongres Amerika menyetujui pembangunan Naval Medical Research Unit di Brooklyn,New York .

1968
Menteri Kesehatan Dr G.A. Siwabessy meminta Amerika membantu Indonesia mengatasi campak dan malaria.

16 Januari 1970
Namru-2 resmi berdiri di Indonesia, ditandai dengan penandatanganan perjanjian oleh Siwabessy dan Francis Galbraith, Duta Besar Amerika di Jakarta. Tidak ada batas waktu, tapi di situ disebutkan sebelum 10 tahun pembatalan harus disepakati dua negara. Adapun pembatalan setelahnya bisa dilakukan sepihak.

9 November 1998
Menteri Pertahanan/Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia Jenderal Wiranto mengirim surat ke Menteri Kesehatan dan Menteri Luar Negeri. Isinya, penilaian bahwa Namru tak bermanfaat sehingga kerja sama perlu diakhiri.

19 Oktober 1999
Menteri Luar Negeri Ali Alatas mengirim surat ke Presiden B.J. Habibie, meminta perjanjian Namru ditinjau ulang.

28 Januari 2000
Indonesia menghentikan sepihak program Namru-2 melalui surat yang dikirim Menteri Luar Negeri Alwi Shihab. Tapi pemerintah menyatakan bersedia berunding untuk memperoleh kerja sama saling menguntungkan. Pada hari yang sama, Kedutaan Amerika menjawab siap berunding.

25 Agustus 2004
Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda mengirim surat ke Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, Menteri Pertahanan, serta Menteri Kesehatan. Isinya, rekomendasi penutupan Namru segera setelah proyek yang sedang berjalan selesai.

November 2004
Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari menutup Namru, tapi langsung dibuka kembali atas perintah Presiden.

7 November 2006
Rapat koordinasi menteri bidang politik dan keamanan membahas rencana kedatangan Presiden Amerika George W. Bush dan Namru.

20 November 2006
Bush bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Bogor. Dalam pernyataan bersama kedua kepala negara, Namru termasuk yang ditekankan.

9-10 Januari 2007
Delegasi Indonesia dipimpin Harry Purwanto, Direktur Amerika Utara dan Tengah, dan delegasi Amerika bertemu di Jakarta. Beberapa klausul menjadi perdebatan, dan hingga kini belum disepakati.

November 2007
Indonesia memberikan draf akhir ke Washington, dengan memasukkan
klausul-klausul yang tetap tidak disetujui Amerika.

1 April 2008
Menteri Kesehatan Amerika Michael O. Leavitt berkunjung ke Indonesia dan membahas perpanjangan Namru-2.

18 April 2008
Departemen Kesehatan melarang pengiriman sampel ke Namru-2 hingga
ditandatangani perjanjian baru.


3 Tanggapan ke “Gunjang Ganjing NAMRU – a reminder wae”


  1. 22 Oktober , 2009 pukul 5:46 pm

    http://www.facebook.com/note.php?note_id=186545612645

    ‘Kejanggalan’ Pemberitaan Siti Fadilah tentang Endang Rahayu

    Silakan dicermati kedua pemberitaan ini. Setahu saya, Tribun Batam Online meng-copy berita dari Detik, tapi Detik malah mengubah redaksinya dan ada tulisan “Update”. Namun Detik lupa, ternyata URL-nya masih yang lama.. :-) ketahuan deh… :p

    Bagaimana menurut teman-teman, apakah ada tekanan asing kepada media massa spt Detik sehingga mau saja mengubah isi berita sebelumnya? :-)
    * sekadar tahu bahwa aroma keterlibatan asing dalam pembentukan kabinet indonesia bersatu II ini terasa kental…. (oya, fakta ini baru satu lho, belum yang lainnya) :-)

    Silakan berkomentar.

    Salam,
    O. Solihin

    =====
    http://tribunbatam.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=36178&Itemid=1096

    Siti Fadilah: Endang Larikan Virus ke LN
    Written by anton
    Kamis, 22 Oktober 2009

    JAKARTA, TRIBUN – Penunjukan Endang Rahayu Sedyaningsih sebagai menteri kesehatan cukup menimbulkan pertanyaan. Karirnya di depkes sempat tersandung karena Endang pernah dimutasi oleh Siti Fadilah Supari.

    “Dia pernah saya mutasi karena dokter Endang membawa virus yang dilarang ke luar negeri. Dia membawa virus tanpa setahu kita. Itu ada sekitar 58 virus ke Hanoi tanpa setahu siapapun juga,” kata mantan Menkes Siti Fadilah Supari kepada wartawan di Jakarta, Rabu (21/10).

    Siti Fadilah menuturkan, kala itu Endang beralasan membawa virus untuk diteliti karena ada profesor kenalannya yang datang ke Hanoi. Namun tetap saja hal itu tidak bisa dibenarkan. “Tapi untuk saya membawa virus keluar tanpa sepengetahuan saya adalah pelanggaran,” tegasnya.

    Siti Fadilah mengatakan kini sudah tidak mempermasalahkan kasus ‘penyelundupan’ tersebut karena Endang sudah meminta maaf. Tapi gara-gara insiden ini Endang dilarang mengurusi virus lagi.

    Ke depannya, Siti Fadilah berharap ucapan Endang kepadanya bahwa dirinya seorang nasionalis bukan isapan jempol belaka. Soal kemampuan, Siti Fadilah yakin Endang punya kemampuan untuk memimpin sebuah departemen dengan sedikit catatan soal virus.

    “Saya optimis dia bisa melaksanakan tugas sebagai menkes karena kemampuan identifikasi masalah, menganalisa suatu kesimpulan, merencanakan tindakan dia itu mumpuni,” jelasnya.
    “Yang harus saya kawal adalah policy dia terhadap H5N1 dan juga virus-virus yang lain. Kerjasama Indonesia-Amerika yang sudah saya rintis,” lanjutnya.

    Menurut mantan Menkes Siti Fadilah Supari, Endang merupakan orang yang paling dekat dengan Naval Medical Research Unit 2 (Namru-2). “Endang adalah staf saya di bagian Litbang. Dia adalah mantan pegawai Namru-2. Dia orang yang paling dekat dengan Namru,” katanya.

    Keberadaan Namru-2 sempat menjadi kontroversi. Namru-2 pertama kali berada di Indonesia pada tahun 1970 untuk meneliti virus-virus penyakit menular bagi kepentingan Angkatan Laut AS dan Departemen Pertahanan AS. Kontrak Namru-2, unit riset virus milik Angkatan Laut AS, dengan RI sudah habis sejak Januari 2000.

    Namun pada praktiknya masih berlangsung kegiatan penelitian hingga 2005. Kemudian Menkes Siti Fadilah Supari langsung menghentikannya. Dia melarang seluruh rumah sakit mengirimkan sampel ke Namru-2 untuk diteliti. Banyak pihak mencurigai keberadaan Namru menjadi sarana kegiatan intelijen AS dengan berkedok riset.

    Setahun setelah Menjadi Menteri Kesehatan, Siti Fadilah Supari meminta agar izin Namru 2 ditutup. Barulah diakhir masa jabatannya, ,tepatnya 16 Oktober 2009, Siti Fadilah mengirimkan surat pemberhentian kerjasama Depkes dengan Namru- 2.

    Namru awalnya adalah lembaga riset di bawah otoritas Angkatan Laut Amerika Serikat. Lembaga ini beroperasi di Indonesia sejak tahun 1968. Awalnya, Indonesia yang meminta mereka datang untuk meneliti wabah sampar di Jawa Tengah. Ternyata manjur. Berkat rekomendasi NAMRU, wabah sampar yang merajalela berhasil dijinakkan.

    Dua tahun kemudian, terjadi wabah malaria di Papua. Namru kembali diminta bantuannya. Bahkan kali ini kehadiran mereka diikat dalam sebuah MOU, ditanda tangani oleh Menteri Kesehatan GA Siwabessy dan Duta Besar AS, Francis Galbraith.

    MOU itulah yang menjadi landasan hukum laboratorium di bawah kendali Angkatan Laut AS itu terus bercokol di Indonesia, biar pun selama puluhan tahun tidak ada lagi wabah penyakit menular; dan biar pun tuan rumah tidak lagi membutuhkan bantuannya.

    Dalam MOU itu dijelaskan, tujuan kerjasama adalah untuk pencegahan, pengawasan dan diagnosis berbagai penyakit menular di Indenesia. Namru diberikan banyak sekali kelonggaran, terutama fasilitas kekebalan diplomatik buat semua stafnya; dan izin untuk memasuki seluruh wilayah Indonesia.
    Memang ada klausul dalam MOU itu, setiap 10 tahun kerjasama tersebut dapat ditinjau kembali. Belakangan, Indonesia memang merasa tertipu oleh perjanjian yang amburadul itu. Namun semua usaha yang dilakukan untuk mengontrol Namru 2 tidak satu pun yang berhasil. Buktinya, selama periode tahun 2.000-2005, lembaga riset ini tetap beroperasi, kendati izinnya sudah habis. (dtc/persda network/yuli s)

    Bandingkan dengan berita yang ini…

    ==
    http://www.detiknews.com/read/2009/10/21/235059/1226030/10/siti-fadilah-endang-larikan-virus-ke-ln

    Rabu, 21/10/2009 23:58 WIB
    Updated
    Siti Fadilah Optimistis Endang Mampu Sebagai Menkes
    Nograhany Widhi K – detikNews

    Jakarta – Endang Rahayu Sedyaningsih ditunjuk Presiden SBY sebagai Menteri Kesehatan (Menkes) yang baru. Dia merupakan peneliti di Laboratorium Namru 2. Namun, Menkes Siti Fadilah Supari optimistis Endang bisa melakukan tugas sebagai Menkes dengan baik.

    “Saya optimis dia bisa melaksanakan tugas sebagai menkes karena kemampuan identifikasi masalah, menganalisa suatu kesimpulan, merencanakan tindakan dia itu mumpuni,” jelas Menkes kepada wartawan di kediamannya di Jakarta, Rabu (21/10/2009) malam.

    Menkes Siti berharap Endang benar-benar menjadi seorang nasionalis. Bagi Siti, Endang merupakan orang yang cerdas dan punya pengalaman di dunia kesehatan masyarakat. Dia yakin Endang mampu meneruskan program kesehatan yang bersifat nasionalis sebagaimana telah di lakukan.

    “Yang harus saya kawal adalah policy dia terhadap H5N1 dan juga virus-virus yang lain. Kerjasama Indonesia-Amerika yang sudah saya rintis tanpa campur tangan militer,” lanjutnya.

    Sebelumnya Siti menyampaikan pernyataan yang sangat terbuka terhadap penunjukan Menkes yang baru. Namun, dengan alasan tertentu, dia meminta agar pernyataannya itu tidak dimuat. (gah/sho)

  2. 2 vika flarina
    23 Oktober , 2009 pukul 8:22 am

    kepentingan AS, yach kita sekarang memang dijajah seperti jaman belanda dulu, mending kita mohon ke Inggis aja untuk dijajah biar nantinya lebih maju seperi persemakmuran.

  3. 3 momo
    2 November , 2009 pukul 5:12 pm

    loo….h, ko O. Solihin ???????
    bukankah tidak mendiamkan blio berarti tidak tsiqoh….
    bagaimana bisa ?????


Tinggalkan Balasan




Periwitan Twitter

  • 3 minutes pre argo gede departures, bismillahitawakkaltu alallooh laa hawla wa laa quwwata illa billah.-@-15 hours ago
  • Next destination: Bandung - Lemahneundeut with colleagues-@-15 hours ago
  • @inoytjantek dibikin renyah aja noy.. lempar sepatu ke arah mic :D-@-15 hours ago

Selamat Datang

Diriku

Hai semua....

Kawan, untuk menjaga tali silaturahim, saya mohon kawan-kawan yang sudah mampir sudi untuk membaca ATURAN MAIN dan meninggalkan sedikit jejaknya di RUANG TAMU saya. Saya sangat menghargai kunjungan kawan-kawan ke sini. Terima Kasih.

OIA, bagi kawan-kawan yang kesulitan mencari tulisan-tulisan saya di Pelarian, gunakan saja fasilitas di bawah ini.

Selamat Berlari...

Other languages

For English version click here.

For Arabic version click here.

Just try it and I bet you'll be laughing.

(BTW, it needs a fast internet connection)

Langganan Isi SitusQ

Tanggal Posting

Oktober 2009
S S R K J S M
« Agu   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Kategori Tag

RSS EraMuslim

  • Ulama Malaysia Usulkan Undang-Undang Melarang Sihir
    Surat kabar New Straits Times menyebutkan, para ulama meminta agar diberlakukan undang-undang yang melarang sihir karena belakangan banyak laporan kasus-kasus perampokan dengan menggunakan ilmu hitam. Para pelaku perampokan menggunakan mantra-mantra untuk menggasak harta korban.
  • Bank Terbesar Swiss Didenda Ratusan Juta Dollar
    Jaksa Agung AS, Eric Holder bahkan menyebut pelanggaran yang dilakukan CSG dalam kasus ini merupakan tindak kriminal yang luar biasa. Menurut para penyelidik di OFAC, CSG menggunakan prosedur yang rumit dengan mengubah pembayaran untuk menyembunyikan kemana pembayaran itu ditujukan, termasuk menutupi nama-nama pihak yang terkena sanksi dari instruksi pembaya […]
  • Pejabat dan Diplomat AS Tak Bisa Seenaknya Lagi Masuk Pakistan
    Menurut sumber diplomat AS itu, pengetatan yang dilakukan Pakistan terhadap warga negara dan pejabat AS sebagai reaksi atas makin meluasnya operasi militer yang dilakukan sepihak oleh AS di wilayah Pakistan, yang menimbulkan sikap anti-AS di negeri itu. Meski demikian, masih kata sumber tadi, AS belum berencana melakukan tekanan pada Pakistan atas kebijakan […]
  • Mahkamah Agung Pakistan : Tidak Ada Amnesty Bagi Politisi Korup
    Mahkamah Agung Pakistan mendeklarasikan, Rabu kemarin, bahwa tidak ada amnesty (pengampunan) yang dapat melindungi politisi, termasuk Presiden Pakistan Asif Ali Zardari dari perbuatan korupsi dan tindakan kriminal lainnya, dan tidak konstitusional.
  • Bantuan AS untuk Israel Sebesar 2,775 Miliar Dolar di 2010 Nanti
    Surat kabar ekonomi berbahasa Ibrani Globe melaporkan bahwa Amerika telah meratifikasi bantuan tahunannya kepada Israel pada tahun 2010 mendatang mencapai 2.775 miliar dollar meningkat dari tahun sebelumnya 2009 yang berjumlah "hanya" 225 juta dollar.

RSS Antara – Nasional

  • Pemkot Palangkaraya Komit Laksanakan Reformasi Birokrasi 17 Desember , 2009
    Pemerintah Kota (Pemkot) Palangkaraya, Kalimantan Tengah (Kalteng) berkomitmen untuk melaksanakan reformasi birokrasi dengan melaksanakan program reformasi tata pemerintahan di kota itu.
  • 16 Ribu Cakram Optik Bajakan, Miras, Pil Ekstasi Dimusnahkan 17 Desember , 2009
    Enam belas ribu keping cakram optik (film dan musik) bajakan serta lima belas ribu botol minuman keras dan 145 butir pil ekstasi hasil Operasi Pekat Krakatau di wilayah hukum Cilegon Banten dimusnahkan di Mapolres Cilegon.
  • Sekda Prov: 40 Persen Anggaran 2009 Babel Disalahgunakan 17 Desember , 2009
    Sekitar 40 persen dana APBD maupun APBN 2009 di Bangka Belitung (Babel) disalahgunakan, demikian temuan Inspektorat Provinsi Babel.
  • Sekda Bateng Minta RSUD Transparansikan Biaya Pengobatan 17 Desember , 2009
    Sekda Kabupaten Bangka Tengah (Bateng), Babel, Abdul Hadi Adjin, meminta kepada pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) setempat untuk melakukan transparansi dalam penetapan biaya pengobatan.
  • Mahasiswa Aceh Buka Posko Keprihatinan Terhadap Gubernur, Wagub 17 Desember , 2009
    Puluhan mahasiswa di Banda Aceh membuka posko keprihatinan terkait dengan tiga tahun kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar, yang dinilai belum menyejahterakan masyarakat.
  • Pertemuan Bandung Sepakati Forum Nasional Jurnalis Kespro 17 Desember , 2009
    Pertemuan 20 jurnalis dari beragam media massa dari seluruh Indonesia, di Bandung, Jawa Barat, Kamis, menyepakati pembentukan Forum Nasional Jurnalis Peduli Keluarga Berencana (KB), kesehatan reproduksi (kespro), HIV/AIDS, dan kependudukan, yang diharapkan segera membentuk perwakilan di daerah-daerah.
  • Sarjana Diminta Buka Lapangan Kerja 17 Desember , 2009
    Para sarjana strata 1 (S1) di Kota Pangkalpinang, Babel, diminta membuka lapangan pekerjaan, agar bisa menyerap banyak tenaga kerja untuk mengurangi pengangguran.
  • Menkominfo Tifatul: PKS Harapan Bangsa Indonesia Pada 2014 17 Desember , 2009
    Anggota Majelis Syuro DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Tifatul Sembiring, saat melakukan malam ramah tamah dengan kader PKS Kota Pontianak, Kamis malam, menyatakan PKS adalah partai harapan bangsa Indonesia pada Pemilu 2014.
  • Jatah Raskin di Mamasa Disunat Oknum Kades 17 Desember , 2009
    Jatah Beras Miskin untuk sejumlah rumah tangga miskin (RTS) di Desa Masuppu Kecamatan Taban Kabupaten Mamasa Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) diduga disunat, oknum Kepala Desa (Kades) Massuppu, Adriani.
  • Kasus Penipuan Berkedok Investasi Rugikan Rp18 Miliar Terbongkar 17 Desember , 2009
    Kepolisian Resor (Polres) Kediri, berhasil membekuk Siti Asiyah (39), warga Desa/Kecamantan Kras, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, atas dugaan penipuan berkedok penanaman investasi hingga merugikan korbannya senilai Rp18 miliar.

RSS BBC Indonesia

  • Kasus Bibit-Chandra dihentikan
    Kejaksaan Agung akan menerbitkan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan atas kasus Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Rianto.
    http://www.bbc.co.uk/indonesian/
  • Fiji harus pulihkan demokrasi
    Pemimpin Persemakmuran mendesak penguasa militer Fiji untuk memulihkan demokrasi dan menjamin hak asasi manusia dilindungi.
    http://www.bbc.co.uk/indonesian/
  • Ito gantikan Susno Duadji
    Kabareskrim Mabes Polri Komjen Susno Duadji hari Senin resmi dicopot dari jabatannya dan digantikan Irjen Ito Sumardi.
    http://www.bbc.co.uk/indonesian/
  • Bank Dubai diberi dana baru
    Bank Sentral Uni Emirat Arab menyatakan akan menawarkan likuiditas tambahan sementara bursa saham Dubai siap dibuka hari ini.
    http://www.bbc.co.uk/indonesian/
  • Iran bangun 10 reaktor nuklir
    Pemerintah Iran menyetujui rencana membangun 10 pabrik pengayaan uranium yang baru, demikian laporan media pemerintah.
    http://www.bbc.co.uk/indonesian/

RSS New York Times

Berapa Pengunjung?

  • 174,593 Orang

Sedang On Line

Dari mana?

Posisimu?

Perlindungan

Creative Commons Licence


Secara umum, semua karya yang tertampil di dalam situs PELARIAN -kecuali yang tidak dinyatakan demikian- adalah opini pribadi, tidak ada sangkut pautnya dengan organisasi apapun, dan dilindungi oleh Lisensi dari Creative Commons Attribution-Noncommercial 3.0 Unported License.

Untuk lebih jelasnya, silahkan buka halaman Aturan Main.

Salinan dari lisensi ini bisa didapatkan melalui, halaman web ini atau mengirimkan surat kepada Creative Commons, 171 Second Street, Suite 300, San Francisco, California, 94105, USA.