Tahun 2009 diawali berbagai berita menyedihkan bagi umat Islam. Bukan hanya di kawasan Gaza darah umat Islam mengucur, tetapi di kawasan kita, Asia Tenggara, darah umat Islam ‘kembali’ tercecer. Muslim Rohingya mengungsi ke Indonesia dengan kapal setelah mereka disiksa dan diusir tentara Thailand tanpa motor, tanpa layar, dan tanpa bekal. Mereka mengaku mengungsi karena dipaksa menjadi penganut Buddha, jika tidak jari mereka akan dipotong oleh rezim militer Myanmar. Kisah mereka semakin menyedihkan ketika berbagai media menyebut darah saudara sesama Muslim kita sebagai ‘manusia perahu dari Rohingya’ dan banyak dari generasi muda (bahkan generasi tua) Muslim di Indonesia yang belum mengenal mereka.
Perkenalkan: Muslim Rohingya
Membicarakan Muslim Rohingya tidak bisa dilepaskan dari aspek geostrategis tempat tinggal mereka, Arakan. Arakan, sebelumnya disebut Rohang, merupakan wilayah di bagian barat laut Myanmar dan berbatasan dengan Bangladesh (lihat peta). Bangsa Rohingya telah tinggal di Arakan sejak manusia mulai mengingat mereka. Mereka adalah rakyat dengan budaya dan peradaban khas dibandingkan etnis lain di Myanmar. Mereka merupakan keturunan campuran Bangsa Arab, Moor, Patani, Mongol, Bengali, dan Indo-Mongoloid. Hasilnya, kebanyakan dari mereka memiliki kulit gelap yang khas dan lebih mirip Muslim Bangladesh ketimbang suku Birma.
[Preview the picture above with Windows Picture and Fax Viewer]

Sebagaimana dakwah Islam dibawa oleh para pedagang, maka Islam pasti akan mudah dijumpai di wilayah-wilayah strategis, sebagaimana sifat alami kedatangan para pedagang. Tidak heran jika Islam telah datang dan dipeluk warga Arakan semenjak abad ke-7 Masehi. Sama seperti masa kedatangan Islam ke wilayah strategis Malaka dan Palembang (Sriwijaya).
Wilayah Arakan ini ditinggali oleh dua etnis, Rakhine yang Buddha dan Rohingya yang Muslim. Dari jumlah penduduk Myanmar yang sekitar 50 juta, dan penganut Islam 8 juta (2006), sekitar 3,5juta dari mereka adalah Muslim Rohingya dari Arakan. Disebabkan penyiksaan melalui pembersihan etnis dan tindakan genosida terhadap Muslim Rohingya, sekitar 1,5 juta orang telah dipaksa untuk meninggalkan rumah dan hati mereka semenjak kemerdekaan Myanmar pada tahun 1948. Mereka kebanyakan mengungsi ke Bangladesh, Pakistan, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Malaysia, dan Thailand.
Sebagian besar Muslim Rohingya menggantungkan hidupnya kepada pertanian. Sebagian kecil saja dari mereka yang menjadi nelayan, pedagang, dan pebisnis. Ada juga yang menjadi seniman, pandai besi, dan pemahat. Oleh karena diskriminasi terhadap mereka, Muslim Rohingya menjadi tuna wisma. Sawah mereka dirampas oleh penghuni baru yang kebanyakan Buddha. Produk pertanian pun diberikan pajak yang tinggi, termasuk peternakan, seperti sapi, kambing, dan unggas. Mereka juga terpaksa menjadi buruh tani dengan bayaran yang sangat murah dan hidup di bawah garis kemiskinan.

Saat ini, jumlah pedagang dan pebisnis Rohingya benar-benar turun drastis. Mereka tidak diperbolehkan untuk menjalankan perdagangan dan bisnis dengan bebas. Kadangkala, mereka harus membagi bisnis mereka dengan golongan Buddha yang tidak berbagi peran maupun investasi. Rezim militer telah melarang Muslim Rohingya untuk membela hak-hak mereka atas pendidikan dan pekerjaan yang layak. Rezim militer bahkan telah berhenti melakukan perekrutan PNS dari kalangan Muslim Rohingya semenjak tahun 1970an. Tidak boleh ada prajurit Myanmar yang berasal dari kalangan Muslim Rohingya.
Muslim Rohingya adalah penganut Islam yang taat. Kebanyakan tetua Rohingya menumbuhkan dan merawat janggut dan para wanitanya mengenakan hijab. Semua rumah Muslim Rohingya dikelilingi oleh dinding bambu yang tinggi. Ada masjid dan madrasah di setiap desa. Lelaki muslim mengerjakan sholat di masjid berjamaah sedangkan yang wanita sholat di rumah. Ikatan sosial / ukhuwah yang melembaga di antara Muslim Rohingya dikenal dengan sebutan Samaj. Semua aktivitas sosial seperti pembagian daging kurban, membantu orang miskin, janda, anak yatim, dan orang yang membutuhkan pertolongan, serta fungsi pernikahan dan penguburan diemban oleh Samaj. Ulama juga memainkan peranan penting dalam masyarakat, terutama terkait hukum privat, seperti urusan keluarga. Sayangnya, sekarang Muslim Rohingya terdesak oleh tekanan budaya Buddha. Menurut junta militer, Muslim Rohingya harus mengadopsi pemikiran ras dan budaya Birma serta Buddha.
Awal Kisah Tragis Muslim Rohingya
Selama Perang Dunia II, pasukan Jepang menginvasi Myanmar, lalu wilayah ini berada di bawah kekuasaan kolonial Inggris dan menyebutnya sebagai Birma. Pasukan Inggris mundur dan memunculkan vacuum of power yang menciptakan kekerasan komunal. Termasuk kekerasan di antara warga desa Buddha Rakhine dan Muslim Rohingya. Pada tanggal 28 Maret 1942, sekitara 100.000 Muslim Rohingya (hampir separuh dari populasi Muslim Rohingya pada waktu itu) dibunuh oleh orang-orang Buddha Rakhine.
Pada masa junta militer, Muslim Rohingya dipaksa untuk meninggalkan nama-nama Islam dan menggunakan nama-nama Birma. Setiap bangunan yang mengesankan simbol Islam diratakan dengan tanah. Ratusan masjid telah diledakkan. Pembangunan masjid baru atau renovasi masjid juga dilarang. Pagoda, biara, dan kuil Buddha didirikan di setiap sudut dan sela-sela tanah Muslim Rohingya. Pelajar muslim dicuciotaknya di sekolah-sekolah di mana ajaran-ajaran anti-Islam dijejalkan kepada mereka. Islam dan budaya Islam selalu digambarkan dengan cara-cara yang memalukan, menghinakan, merendahkan, dan menyimpang.
Sebelum junta militer merebut wilayah Rohingya pada tahun 1962, Muslim Rohingya tak kalah maju dengan komunitas Buddha di Arakan. Hanya karena kemiskinan, diskriminasi dan penyiksaan terus-menerus atas diri mereka, jumlah pelajar Rohingya turun drastis. Mereka dipersulit untuk dapat mengikuti pendidikan tinggi di kampus dan universitas. Larangan-larangan bagi Muslim Rohingya telah diberlakukan untuk mencegah mereka mendapatkan karir profesional karena mereka dipertanyakan kewarganegaraannya.
Sebelum tahun 1962, komunitas Rohingya telah diakui sebagai etnis nasional endogen Birma. Mereka memiliki perwakilan di Parlemen Birma, dan beberapa di antaranya telah ditunjuk sebagai menteri dan sekretaris parlemen. Pada masa pemerintahan Presiden U Nu, Sultan Mahmood yang merupakan hartawan dan orang berpengaruh Rohingya menjabat sebagai Sekretaris Politik, lalu menduduki jabatan Menteri Kesehatan. Anggota kabinet lainnya adalah Abdul Bashar, Zohora Begum, Abul Khair, Abdus Sobhan, Abdul Bashar, Rashid Ahmed, dan Nasiruddin (U Pho Khine). Beberapa tokoh seperti Sultan Ahmed dan Abdul Gaffat menjadi sekretaris parlemen.
Setelah rezim militer berkuasa, mereka telah menghilangkan hak politik Muslim Rohingya secara sistematis. Dengan diundangkannya UU Kewarganegaraan tahun 1982 mereka disebut sebagai warga ‘non-kebangsaan’ atau ‘warga asing.’ Muslim Rohingya pun resmi dideklarasikan sebagai warga yang pantas ‘dimusnahkan.’
Rezim junta militer mempraktekkan dua kebijakan de-Islamisasi di Myanmar: pemusnahan fisik melalui genosida dan pembersihan etnis Muslim Rohingya di Arakan, serta asimilasi budaya bagi umat Islam yang tinggal di bagian lain Myanmar. Tujuan utama mereka adalah merubah wilayah strategis Arakan (lihat peta) yang didominasi Muslim menjadi didominasi kalangan Buddha dengan merubah konstelasi demografis Arakan. Bahkan kini nama Arakan diubah pemerintah menjadi Rakhine, nama khas Buddha.
Di Arakan, banyak Muslim Rohingya yang ditahan dengan cara sewenang-wenang, disiksa, dieksekusi dengan cepat, dan dibunuh. Muslim Rohingya dipaksa menjadi buruh (baca: budak) pagi-siang-malam. Sawah-sawah dirampas dan rumah mereka diakuisisi warga baru Buddha. Masjid dan madrasah diledakkan lalu diganti dengan pembangunan pagoda dan kuil Buddha. Junta berharap agar dapat merubah lansekap Arakan.
Muslimah Rohingya diperkosa dan tidak diperlakukan dengan hormat. Mereka dipaksa untuk menikah dengan pria-pria Buddha, dilarang mengenakan hijab, dipaksa mengenakan alat kontrasepsi, dan dilarang menikah dengan sesama Muslim Rohingya.
Muslim Rohingya juga dilarang bepergian dari satu desa ke desa lain meski dalam satu kecamatan, baik itu untuk urusan kemasyarakatan, keagamaan, perdagangan, maupun bisnis.
Sekarang Bagaimana?
Hasilnya dari kebijakan anti-Islam ini adalah pengungsian Muslim Rohingya ke negara-negara tetangga. Banyak negara yang kini menolak menyebut saudara kita, para pengungsi Muslim Rohingya, sebagai pengungsi yang mencari suaka. Di negeri non-Muslim seperti Thailand mereka disiksa dan diusir oleh tentaranya. Di negeri Muslim seperti Bangladesh, mereka tidak dibantu sepenuhnya. Bahkan sama seperti Thailand, Indonesia menyebut mereka sebagai pengungsi ekonomi.
Meski tidak ada banyak rilis yang kita dapatkan di media massa mengenai kejahatan kemanusiaan di Myanmar, pengungsian besar-besaran hingga mencapai jumlah 1,5 juta orang adalah bukti bagi kejahatan sistematis rezim militer Myanmar. Bukankah jika Muslim Rohingya tidak diperlakukan dengan demikian keras dan sistematis, mereka tidak akan perlu untuk mengungsi!
Indonesia sebagai mantan god-father Asia Tenggara berusaha menjembatani masalah ‘manusia perahu Rohingya’ melalui Bali Process. Myanmar diharapkan “menghentikan atau mengurangi alasan yang menyebabkan terjadinya arus pengungsi ke negara lain.” Artinya, masalah ini dikembalikan kepada rezim junta militer Myanmar dan Muslim Rohingya. Sementara itu apa yang bisa digunakan oleh negara-negara lain, termasuk Indonesia, untuk mendesak (me-reward dan mem-punish) junta Myanmar dalam Bali Process? Hal ini belum terlihat. Seakan-akan semua negara berlepas tangan terhadap masalah Muslim Rohingya.
Lalu dimanakah solidaritas Indonesia yang memiliki penduduk Muslim terbesar di dunia terhadap Muslim Rohingya? Apakah APBN Indonesia akan terbebani jika membantu mengentas derajat Muslim Rohingya di negeri ini? Sementara anggaran negara kita banyak dihamburkan untuk akal-akalan stimulus ekonomi yang dirampas oleh pengusaha dan birokrat bejat? Sementara negara kita bisa memberikan hibah sebesar 1 juta US Dollar kepada Australia untuk rehabilitasi pasca kebakaran?
Tidak heran jika kini banyak Muslim yang menginginkan solidaritas Islam dipertegas dalam payung negara yang berlandaskan Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw., Khilafah!
[Rizki S. Saputro]
Bahan Bacaan
Krisis Myanmar – Tanya Jawab Kepentingan Negara Besar, http://rizkisaputro.files.wordpress.com/2007/10/krisis-myanmar-tanya-jawab-kepentingan-negara-besar.pdf
Nurul Islam, Facts about the Rohingya Muslims of Arakan, http://www.rohingya.org/index.php?option=com_content&task=view&id=14&Itemid=27
Jan Becka, 1995, Historical Dictionary of Myanmar, London: Scarecrow Press.
Human Right Watch, History of the Rohingya People, http://www.hrw.org/reports/2000/malaysia/maybr008-01.htm
Amnesty International, Myanmar, The Rohingya Minority: Fundamental Rights Denied, http://web.amnesty.org/library/Index/ENGASA160052004?open&of=ENG-MMR
The Economist, 1-7 Desember 2007, Myanmar’s Rohingyas, e-book edition, http://ifile.it/7izate/the.economist.-.2007-12-01.pdf
Kompas, 11 Februari 2009, Thailand Setuju Usul RI soal Pengungsi Rohingya, http://internasional.kompas.com/read/xml/2009/02/11/15510877/Thailand.Setuju.Usul.RI.Soal.Pengungsi.Rohingya
Republika, 9 Februari 2009, AS Akhirnya Bersuara Atas Nasib Rohingya, http://www.republika.co.id/berita/30384/AS_Akhirnya_Bersuara_Atas_Nasib_Rohingya


Muslim Indonesia dan Asia, Target Utama Misi Pemurtadan
Jumat, 13/02/2009 10:29 WIB
Kelompok misionaris Mission Network News (MNN) akan melakukan misi Kristenisasi ke sejumlah negara Asia dengan membuat sejumlah acara radio. Sasaran dari acara tersebut adalah umat Islam di Asia karena program radio yang mereka buat bertema kasih sayang dan penghormatan Muslim terhadap Yesus Kristus.
MNN menjalin kerjasama dengan Far East Broadcasting Company (FEBC dalam melakukan kegiatan misionaris ini. Menurut Gregg Harris, president FEBC, pihaknya sudah bertahun-tahun melakukan kegiatan siaran di negara-negara Muslim dan kami melihat umat Islam senang dan tertarik untuk mendengarkan acara-acara tentang kasih sayang Tuhan.
FEBC adalah lembaga penyiaran yang menayangkan program-program kekristenan dengan menggunakan lebih dari 150 bahasa. Didirikanpada tahun 1945 oleh para tentara veteran Perang Dunia II dengan tujuan menyebarkan ajaran Kristen ke wilayah Asia. Lembaga penyiaran ini sudah merancang jangka panjang untuk membuat program siaran yang bisa menjangkau umat Islam di seluruh dunia.
Program misionaris yang akan diluncurkan FEBC dan MNN kali ini mereka sebut sebagai “Proyek Isa” yang akan diluncurkan di Indonesia, Bangladesh, India dan Pakistan. Tiga negara yang jumlah Muslimnya meliputi hampir setengah jumlah Muslim di dunia. Di Indonesia sendiri, FEBC sudah menyelesaikan proyek pertamanya.
Proyek ini diberi nama “Proyek Isa” setelah melakukan berbagai riset. Mereka memutuskan menggunakan nama Nabi Isa untuk proyek kristenisasinya karena Nama Nabi Isa ada dalam al-Quran dan nama Nabi Isa lebih akrab di telinga umat Islam sehingga diharapkan akan lebih mudah bagi proyek ini untuk menyebarkan gospel di kalangan umat Islam.
Selain ketiga negara itu, Muslim Kazakhstan juga menjadi target misionaris mereka. “Banyak orang meyakini bahwa Kazakhstan akan menjadi negara yang akan memiliki pengaruh besar dalam iklim keagamaan di Asia Tengah,” kata Harris.
“Kami mengajak umat Tuhan untuk berdoa dan kami berdoa agar Tuhan memberikan perlindungan bagi upaya kami untuk membawa cinta kasih Yesus ke dunia Islam,” sambung Harris.
Umat Islam, khususnya di Indonesia selayaknya mewaspadai kegiatan misionari dan kristenisasi yang makin gencar dilakukan oleh kelompok-kelompok gereja evangelis dan pantekosta. Apalagi kegiatan ini sudah menjadi salah satu program penting gereja. Para pimpinan Churh of England dalam pertemuan hari Rabu kemarin di London menyatakan memberikan dukungan penuh pada kegiatan misionaris bahkan meminta semua keuskupan untuk melakukan “evangelisasi” ke seluruh dunia.
“Yang harus ditanamkan dalam pikiran kita, bahwa setiap orang berpotensi untuk pindah agama,” kata Uskup Nezlin Sterling.
Selain Churh of England, European Evangelical Alliance (EEA) lewat sekretaris jenderalnya Gordon Showell-Rogers bulan Oktober kemarin menyerukan “kristenisasi pada seluruh Muslim di Eropa.” (ln/iol)
http://www.eramuslim.com/berita/dunia/musilm-indonesia-dan-asia-target-utama-pemurtadan.htm
Adakah orang indonesia percaya kesemua cerita di atas itu benar? Kita di malaysia yang telah terima sebanyak 14,000 orang rohingya tidak lagi tahan hidup bersama dengan mereka. Nasib baik saudara kita di indo sangguh terima mereka. Baik betul ya. Tolong hulurkan sebanyak bantuan untuk golongan Rohinya itu. Mulakan dengan berkahwin dengan Rohinya dan berkeluarganya. Terima-kasih banyak banyak. Semoga semua orang rohinya dapat berkeluarga di Indonesia ya….
sangat menyedihkan….
Bantu mereka dan klik di http://saverohingya.com
mas izin tak copy ya untuk bahan tugas
saya jadi ingat film Rambo 4 kemarin. klo Rambo (dan nilai2 barat) aja begitu semangat dan militan membela sesama mereka. masak kita kalah. klo gak mau bantu gak usah ngaku muslim dech. he..he.hee..