20
Okt
07

Sejarah, Ilmu Pengetahuan, dan Studi Hubungan Internasional(1)

 

Dalam bukunya ‘When I was very young’, sejarahwan E.H. Carr menuliskan, “ Saya sangatlah yakin bahwa sejarah bukanlah ilmu”. Telah menjadi kebiasaan yang tidak bijaksana dalam penelitian sejarah, bahwa para sejarahwan dalam historical method-nya menggunakan atribusi scientific. Demikian juga dengan para ilmuwan politik, tetapi bedanya disini para ilmuwan politik lebih cermat dan teliti dalam penerapannya, mereka merasa preoccupied dalam penelitian ‘scientific’-nya. Mereka cenderung mengasumsikan teknik pendekatan reduksi, sistem, dan kuantitatif, bermanfaat bagi ilmu pengetahuan, walaupun sebenarnya ilmuwan eksak tidak begitu yakin terhadap hal tersebut. Melihat fenomena ini para mahasiswa hubungan internasional menghadapi dilema2, apakah mengikuti teknik ‘scientific’ sejarahwan yang menghasilkan understanding3 dimana hal-hal menarik akan di’cerita’kan; Ataukah mengikuti para ‘scientific method’ ilmuwan politik, yang didalamnya tidak ada jaminan kevalidan. Atau bisa jadi mereka melakukan sinkronisasi sendiri dalam reflektifitas post-modernisme yang menggunakan segala macam pendekatan atas ‘ilmu pengetahuan’.

Makna Sains

Sains dibutuhkan untuk melakukan penjelasan (explain) atas fenomena dan ramalan (forecast/prediction)sebagai langkah antisipasi masa depan4. Keduanya berjalan bersamaan dalam satu kerangka teori. Sains hanyalah satu-satunya cara untuk metode penjelasan dan prediksi fenomena alam. Sementara itu, metode non-sains juga terdapat di dalam sejarah kehidupan manusia, tetapi universalitas dan validitasnya tidak dapat diandalkan. Berbeda dengan metode saintifik yang mampu menghasilkan kesepakatan universal, melewati batasan bahasa, wilayah, ras, agama, dan ideologi5.

Metode Saintifik dalam Hubungan antar Manusia

Sayangnya metode saintifik ini tidak pernah valid sebagaimana ilmu eksak, ketika diterapkan dalam ilmu sosial. Stanley Hoffmann pernah mengingatkan bahwa ‘manusia bukanlah gas (molekul) atau piston (motor kendaraan)’, artinya terdapat kesadaran (conciusness) dalam alam pikir manusia. Ilmu-ilmu sosial yang ada (Barat) sering kali menyangkal fakta ini. Mereka melihat politik, ekonomi, dan masyarakat sama saja dengan dunia eksak / alamiah, yang pada akhirnya memunculkan asumsi bahwa ’kita’ dapat memahami dunia hubungan antar manusia, setidaknya sebagian kecil dari tujuan explaining and forecasting, sebagaimana yang dilakukan oleh ilmu alam / eksak. Contoh dari pendekatan ini termasuk, ‘rational choice’ dalam asumsi ekonomi6, structural functionalism dalam sosiologi7, ‘where you stand depends on where you sit’ dalam studi organisasi, psikologi aliran Freud, dan teori realis dan neo-realis dalam studi hubungan internasional.

Mereka tidak hirau atas ketidakpastian dan kemungkinan akan perubahan pola pikir dan pola sikap manusia. Ini disebabkan keinginan mereka menjustifikasi teori mereka dalam tataran kebenaran universal sebagaimana kebenaran ilmu alam / eksak. Mereka juga beralasan, apabila reduksi, stabilisasi, dan universalisasi tidak dilakukan maka penjelasan akan meluas dan tidak memberikan satu kejelasan yang memungkinkan prediksi. Gaddis memandang, aktivitas ini tidak lebih sama dengan yang dilakukan para sejarahwan yang hanya mampu memberikan penjelasan yang baik, tetapi tidak mampu memberikan prediksi; padahal ini sangat penting bagi pembuatan kebijakan (policy making).

Ilmu Sosial dan ‘Kecemburuan’ atas Ilmu Alam

Penyakit yang dialami berbagai bidang ilmu sosial ini didokumentasikan dengan apik oleh M. Mitchell Waldrop dalam bukunya Complexity :

Sebagaimana aksioma, dalil, dan bukti-bukti bergerak di layar OHP, para fisikawan terpana pada kekuatan matematika – terkejut ngeri sekaligus terpana. ‘Mereka terlalu sempurna’, kata salah seorang fisikawan muda yang tidak lupa untuk menggelengkan kepala sebagai tanda ketidakpercayaannya. ‘Akan tetapi mereka sepertinya terpesona atas khayalan-khayalan matematika mereka sendiri, hingga mereka tidak menyadari adanya pepohonan dalam hutan. Begitu banyak waktu yang dihabiskan untuk percobaan menyerap matematika ke dalam bidang tersebut (ekonomi, sosial), dan saya rasa untuk alasan apapun, mereka tidak memahami terlebih dahulu bahwasanya model matematika (metode hitungan) tersebut hanya digunakan dalam konteks / kasus tertentu saja. Nyatanya dalam kebanyakan kasus, yang dibutuhkan hanyalah sedikit akal sehat saja’ lanjutnya”.

Maksud paragraf diatas adalah mengingatkan kembali para ilmuwan sosial untuk memahami kembali apa yang dimaksud dengan sains. Bukannya melakukan revolusi diam-diam atas konsep makna sains (menjadi ilmu sains ‘baru’) yang sebelumnya hanya dikenakan oleh ilmu alam saja8.

Ilmu Sejarah

Stephen Jay Gould mengungkapkan fakta bahwa ilmu sejarah memiliki kekuatan untuk menjelaskan secara detail ‘dimana kita’ dan ‘bagaimana kita bisa disini’. Tetapi untuk melakukan prediksi –sebagaimana yang selalu diinginkan para sejarahwan, ia dibatasi oleh kurangnya penelitian yang spesifik tentang kerangka kerja dan proses berjalannya sejarah secara keseluruhan. Memang kebanyakan yang dihasilkan para ilmuwan sejarah adalah di bidang kerangka kerja (structural sciences). Sementara pada level proses (sciences of process), ia sangatlah minim, kemungkinan hal ini disebabkan kecenderungan untuk bimbang dalam memilih teknik kuantifikasi dan kalkulasi.

 

Sejarah dan Ilmu Pengetahuan Alam yang ‘Baru’

Dengan usaha sinkronisasi ilmu sosial dengan ilmu alam / fisika, ilmuwan eksak mulai beralih jalur berfikir lebih ke arah sejarahwan. Artinya lebih tidak rasional, dan prediksi yang dihasilkan sangatlah minim. Untuk itu perlulah kiranya untuk menengok debat lama antara ilmuwan sosial tradisional dengan ilmuwan sejarah. Sejarah dinilai:

  1. Gagal untuk bersikap obyektif, sementara Gaddis memandang ilmu alam lebih sedikit mengalami permasalahan dengan obyektivitas ketimbang ilmu sejarah, oleh sebab itu sejarah lebih mudah melepaskan diri dari satu framework ke framework yang lain, yang tidak dapat dilakukan ilmu alam dan ilmu sosial.

  2. Gagal memberikan standarisasi ukuran / measurement atas fenomena. Gaddis menyanggah dengan mengutip ‘Leopold von Ranke yang menyatakan bahwa sejarah dapat dan harus dipisahkan dari penelitinya sendiri, tetapi Charles A. Beard menyatakan hal tersebut sangatlah relatif, tergantung standard apa yang akan kita gunakan’. Sama halnya dalam teori hubungan internasional, model pilihan rasional tidak mengukur rasionalitas dalam skala yang tepat, begitu juga dengan definisi power yang batasannya sangat umum.

  3. Gagal membuat suatu model yang kompleks. Gaddis berpendapat bahwa tujuan dari model adalah memberikan contoh sepersis mungkin dengan kenyataan yang ada. Oleh karena itu model adalah sebuah metafora (gambaran), dan kompleksifitasnya diasumsikan tergantung pada keseimbangan antara ketelitian terhadap kegunaan. Sejarah sebenarnya melakukan metafora dengan mencerminkan realita kompleks sehingga ia lebih mudah dipahami ketimbang menggunakan metode dan deskripsi kompleks.

  4. Gagal mengalih-bahasakan pilihan atas deskripsi kuantitatifnya. Gaddis menganggap bahasa sendiri sebagai sebuah model, dan tidak ada alasan untuk mengalih-bahasakan ekspresi matematika, selama permasalahan standar pengukuran dan modelling dapat diatasi.

  5. Gagal membuat kemungkinan-kemungkinan dan tidak hirau atas generalisasi yang dilakukannya. Gaddis menjawab bahwasanya sistem yang mengatur dunia ini memiliki lebih dari satu variabel, yang akhirnya akan menghasilkan reaksi yang berbeda antar variabel, yang juga dialami ilmu sosial. Disinilah pentingnya sejarah, untuk memahami pola sikap dari sebuah sistem.

  6. Gagal mengumpulkan bukti secara sistematik dan cenderung intuitif. Gaddis menanggapinya, bahwa kompilasi bukti dan munculnya intuisi selalu berjalan secara simultan, dimana hipotesa menetapkan bukti yang akan dipakai, dan bukti yang kemudian muncul membentuk kembali hipotesa sebelumnya. Mengumpulkan data saja secara terus menerus tanpa memiliki standard mekanisme penilaian yang mencukupi (yang berasal dari intuisi), tidak akan mungkin menyelesaikan permasalahan.

  7. Gagal memberikan bukti yang teliti dan cenderung persuasif. Gaddis menyangkal dengan menuliskan bahwa semua ilmu pengetahuan bersifat persuasif, entah dengan latar belakang nilai, ideologi, bahkan angka. Sehingga dari sini muncul konsumen ilmu yang membenarkan kesimpulannya.

 

Pencarian Kembali ‘Narasi’

Permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh kubu sejarahwan dan ilmuwan sosial untuk menjelaskan dan memprediksi fenomena, lebih kompleks ketimbang yang dihadapi ilmuwan fisika ataupun biologi. Akan tetapi jikalau permasalahan obyektifitas, standard penilaian, modelling, bahasa, kemungkinan-kemungkinan, intuisi, dan persuasi masih ada di dalam Ilmu alam / eksak, maka sangatlah sulit bagi kita untuk menengokkan muka kepada ilmu sosial ataupun sejarah. Disinilah peran metode ilmiah yang dipahami secara benar, untuk membantu menyediakan rasionalisasi dan dasar-dasar bagi dialog antara ilmu alam, sosial dan sejarah. Dan dengan alasan ini pula-lah, muncul sarana justifikasi intelektual yang tak terlihat dalam pendekatan studi world politics.

Narasi sejarah mungkin dapat dipergunakan sebagai jembatan antara ilmu alam yang ‘baru’ dengan kompleksitas ‘ilmu’ sosial, serta dengan ilmu sosial tradisional. Pencarian ulang narasi oleh ilmuwan sosial dapat membuat kita kembali para era pra-profesional, dimana orang yang cerdas dapat mendalami satu disiplin ilmu dan belajar pula berbagai disiplin ilmu yang lain tanpa takut disebut sebagai dilettantes (penggemar ilmu).

[Rizki Saputro]

 

1 John Lewis Gaddis on Woods, Ngaire.1997.Explaining International Relations Since 1945 Chapter II. Oxford University Press : New York.

2 Perdebatan tentang ini dapat dilihat sekilas dalam tulisan Hedley Bull, International Relations as an Academic Pursuit, Australian Outlook Journal vol 26. 3 December 1972 (pg.255-257).

3 Dalam bab sebelumnya, The Uses of Theory in The Study of International Relations (pg.10-11), dibahas perbedaan antara usaha yang bertujuan memahami (understanding) dan menjelaskan (explain), yang walaupun di dalam tulisan bab kedua ini, terms tersebut tidak secara efektif diaplikasikan.

4 Terry,R.G (1986) turut mendukung pendapat ini dalam bukunya Azas-Azas Manajemen. Disini terdapat pembahasan manajemen sebagai ilmu, yang menempatkan teori sebagai punggawa ilmu, dimana teori difungsikan sebagai fasilitator pembahasan dan prediksi.

5 Yusanto, Ismail (2002) dan An-Nabhani, Taqiyuddin (2000) mengingatkan bahwa metode ilmiah bisa memberikan kebenaran ‘fakta’, bisa juga memberikan hasil yang salah; karena metode penelitian yang ada tidak bisa dilepaskan dari kesalahan asumsi, pengamatan dasar, akumulasi data, dan perhitungan lainnya; ini tidak lain karena keterbatasan subyek peneliti sebagai manusia.

6 Rational choice dipopulerkan bapak sosiologi abad 18, Karl Marx, yang menjustifikasi kebenaran nilai materialisme dunia lewat metode saintifik. Sebagai salah satu ideologi dialektis, materialisme mengharuskan diri menempatkan konsep ‘rational choice’ di berbagai bidang kajiannya, termasuk di ranah ekonomi.

7 Emil Durkheim, bapak sosiologi dari Perancis Katolik Ortodoks ini juga melakukan metode ‘ilmiah’ dalam penelitian masyarakatnya. Ia membuat seperangkat analisis yang berstandarkan struktur masyarakat.

8 An-Nabhani secara dialektik lebih gamblang lagi mengungkap hakikat berfikir, sains, tulisan, karya ilmiah, dan ilusi barat atas ‘ilmu’ sosial yang seharusnya khas, menjadi universal dalam bukunya At Tafkir (1956) yang diterjemahkan dalam Bahasa Inggris Thingking (2000) dan dapat diakes di www.1924.org/e-books.


7 Tanggapan ke “Sejarah, Ilmu Pengetahuan, dan Studi Hubungan Internasional(1)”


  1. 21 Maret , 2008 pukul 9:41 am

    Sip … membuka wawasan

    Terima kasih, pak!
    Situs bapak juga membuka wawasan :)

  2. 25 Mei , 2008 pukul 9:20 pm

    Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 25 Mei 2008

    Matinya Ilmu Administrasi dan Manajemen
    (Satu Sebab Krisis Indonesia)
    Oleh Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. C(OMPETENCY) = I(nstrument) . s(cience). m(otivation of Maslow-Zain) (Hukum XV Total Qinimain Zain).

    INDONESIA, sejak ambruk krisis Mei 1998 kehidupan ekonomi masyarakat terasa tetap buruk saja. Lalu, mengapa demikian sulit memahami dan mengatasi krisis ini?

    Sebab suatu masalah selalu kompleks, namun selalu ada beberapa akar masalah utamanya. Dan, saya merumuskan (2000) bahwa kemampuan usaha seseorang dan organisasi (juga perusahaan, departemen, dan sebuah negara) memahami dan mengatasi krisis apa pun adalah paduan kualitas nilai relatif dari motivasi, alat (teknologi) dan (sistem) ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Di sini, hanya menyoroti salah satunya, yaitu ilmu pengetahuan, system ilmu pengetahuan. Pokok bahasan itu demikian penting, yang dapat diketahui dalam pembicaraan apa pun, selalu dikatakan dan ditekankan dalam berbagai forum atau kesempatan membahas apa pun bahwa untuk mengelola apa pun agar baik dan obyektif harus berdasar pada sebuah sistem, sistem ilmu pengetahuan. Baik untuk usaha khusus bidang pertanian, manufaktur, teknik, keuangan, pemasaran, pelayanan, komputerisasi, penelitian, sumber daya manusia dan kreativitas, atau lebih luas bidang hukum, ekonomi, politik, budaya, pertahanan, keamanan dan pendidikan. Kemudian, apa definisi sesungguhnya sebuah sistem, sistem ilmu pengetahuan itu? Menjawabnya mau tidak mau menelusur arti ilmu pengetahuan itu sendiri.

    Ilmu pengetahuan atau science berasal dari kata Latin scientia berarti pengetahuan, berasal dari kata kerja scire artinya mempelajari atau mengetahui (to learn, to know). Sampai abad XVII, kata science diartikan sebagai apa saja yang harus dipelajari oleh seseorang misalnya menjahit atau menunggang kuda. Kemudian, setelah abad XVII, pengertian diperhalus mengacu pada segenap pengetahuan yang teratur (systematic knowledge). Kemudian dari pengertian science sebagai segenap pengetahuan yang teratur lahir cakupan sebagai ilmu eksakta atau alami (natural science) (The Liang Gie, 2001), sedang (ilmu) pengetahuan sosial paradigma lama krisis karena belum memenuhi syarat ilmiah sebuah ilmu pengetahuan. Dan, bukti nyata masalah, ini kutipan beberapa buku pegangan belajar dan mengajar universitas besar (yang malah dicetak berulang-ulang):

    Contoh, “umumnya dan terutama dalam ilmu-ilmu eksakta dianggap bahwa ilmu pengetahuan disusun dan diatur sekitar hukum-hukum umum yang telah dibuktikan kebenarannya secara empiris (berdasarkan pengalaman). Menemukan hukum-hukum ilmiah inilah yang merupakan tujuan dari penelitian ilmiah. Kalau definisi yang tersebut di atas dipakai sebagai patokan, maka ilmu politik serta ilmu-ilmu sosial lainnya tidak atau belum memenuhi syarat, oleh karena sampai sekarang belum menemukan hukum-hukum ilmiah itu” (Miriam Budiarjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, 1982:4, PT Gramedia, cetakan VII, Jakarta). Juga, “diskusi secara tertulis dalam bidang manajemen, baru dimulai tahun 1900. Sebelumnya, hampir dapat dikatakan belum ada kupasan-kupasan secara tertulis dibidang manajemen. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa manajemen sebagai bidang ilmu pengetahuan, merupakan suatu ilmu pengetahuan yang masih muda. Keadaan demikian ini menyebabkan masih ada orang yang segan mengakuinya sebagai ilmu pengetahuan” (M. Manullang, Dasar-Dasar Manajemen, 2005:19, Gajah Mada University Press, cetakan kedelapan belas, Yogyakarta).
    Kemudian, “ilmu pengetahuan memiliki beberapa tahap perkembangannya yaitu tahap klasifikasi, lalu tahap komparasi dan kemudian tahap kuantifikasi. Tahap Kuantifikasi, yaitu tahap di mana ilmu pengetahuan tersebut dalam tahap memperhitungkan kematangannya. Dalam tahap ini sudah dapat diukur keberadaannya baik secara kuantitas maupun secara kualitas. Hanya saja ilmu-ilmu sosial umumnya terbelakang relatif dan sulit diukur dibanding dengan ilmu-ilmu eksakta, karena sampai saat ini baru sosiologi yang mengukuhkan keberadaannya ada tahap ini” (Inu Kencana Syafiie, Pengantar Ilmu Pemerintahan, 2005:18-19, PT Refika Aditama, cetakan ketiga, Bandung).

    Lebih jauh, Sondang P. Siagian dalam Filsafat Administrasi (1990:23-25, cetakan ke-21, Jakarta), sangat jelas menggambarkan fenomena ini dalam tahap perkembangan (pertama sampai empat) ilmu administrasi dan manajemen, yang disempurnakan dengan (r)evolusi paradigma TOTAL QINIMAIN ZAINn (TQZ): The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority, TQZ Administration and Management Scientific System of Science (2000): Pertama, TQO Tahap Survival (1886-1930). Lahirnya ilmu administrasi dan manajemen karena tahun itu lahir gerakan manajemen ilmiah. Para ahli menspesialisasikan diri bidang ini berjuang diakui sebagai cabang ilmu pengetahuan. Kedua, TQC Tahap Consolidation (1930-1945). Tahap ini dilakukan penyempurnaan prinsip sehingga kebenarannya tidak terbantah. Gelar sarjana bidang ini diberikan lembaga pendidikan tinggi. Ketiga, TQS Tahap Human Relation (1945-1959). Tahap ini dirumuskan prinsip yang teruji kebenarannya, perhatian beralih pada faktor manusia serta hubungan formal dan informal di tingkat organisasi. Keempat, TQI Tahap Behavioral (1959-2000). Tahap ini peran tingkah-laku manusia mencapai tujuan menentukan dan penelitian dipusatkan dalam hal kerja. Kemudian, Sondang P. Siagian menduga, tahap ini berakhir dan ilmu administrasi dan manajemen akan memasuki tahap matematika, didasarkan gejala penemuan alat modern komputer dalam pengolahan data. (Yang ternyata benar dan saya penuhi, meski penekanan pada sistem ilmiah ilmu pengetahuan, bukan komputer). Kelima, TQT Tahap Scientific System (2000-Sekarang). Tahap setelah tercapai ilmu sosial (tercakup pula administrasi dan manajemen) secara sistem ilmiah dengan ditetapkan kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukumnya, (sehingga ilmu pengetahuan sosial sejajar dengan ilmu pengetahuan eksakta). (Contoh, dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru milenium III, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas dan D(ay) atau Hari Kerja – sistem ZQD, padanan m(eter), k(ilogram) dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta – sistem mks. Paradigma (ilmu) pengetahuan sosial lama hanya ada skala Rensis A Likert, itu pun tanpa satuan). (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

    Bandingkan, fenomena serupa juga terjadi saat (ilmu) pengetahuan eksakta krisis paradigma. Lihat keluhan Nicolas Copernicus dalam The Copernican Revolution (1957:138), Albert Einstein dalam Albert Einstein: Philosopher-Scientist (1949:45), atau Wolfgang Pauli dalam A Memorial Volume to Wolfgang Pauli (1960:22, 25-26).
    Inilah salah satu akar masalah krisis Indonesia (juga seluruh manusia untuk memahami kehidupan dan semesta). Paradigma lama (ilmu) pengetahuan sosial mengalami krisis (matinya ilmu administrasi dan manajemen). Artiya, adalah tidak mungkin seseorang dan organisasi (termasuk perusahaan, departemen, dan sebuah negara) pun mampu memahami, mengatasi, dan menjelaskan sebuah fenomena krisis usaha apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistem-(ilmu pengetahuan)nya.

    PEKERJAAN dengan tangan telanjang maupun dengan nalar, jika dibiarkan tanpa alat bantu, membuat manusia tidak bisa berbuat banyak (Francis Bacon).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Ahli strategi, tinggal di Banjarbaru, email: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com).

    THANK you very much for Dr Heidi Prozesky – SASA (South African Sociological Association) secretary about Total Qinimain Zain: The New Paradigm – The (R)Evolution of Social Science for the Higher Education and Science Studies sessions of the SASA Conference 2008.

  3. 6 Agustus , 2008 pukul 2:32 pm

    Assalamu’alaikum
    Mas Rizki, saya mendapat manfaat sgt besar dari blog ini
    Terimakasih banyak
    Wassalam

  4. 4 Ncha'
    26 Oktober , 2008 pukul 8:47 pm

    Assalamu Alaikum…

    Bang Rizki…
    makasi banyak y sblumX…
    blog abang sngat bemanfaat…
    smoga ttp bs exist, amin…

    oia bang, sy lgi tugas akhir nih di HI UNHAS trus lg cri buku, artikel, atau apapun bout “Peranan Amerika dalam kemerdekaan Kosovo”. Sapa tau aja abang punya banyak referensi tlong dibantu y bang…

    Afwan n Syukran…
    wassalam..

    (nchadictator@yahoo.co.id)

  5. 27 Oktober , 2008 pukul 8:14 am

    Wa’alaykumussalam,

    Terima kasih, Amin.

    Coba ikuti perkembangan berita Kosovo dari tahun awal bubarnya ColdWar sampe sekarang di portal berita milik UK di http://www.guardian.co.uk/world/kosovo ; milik AS sendiri http://topics.nytimes.com/top/news/international/countriesandterritories/serbia/kosovo/index.html ; dan Kosovo sendiri http://www.newkosovareport.com/ dan http://www.kosovapress.com/

    Untuk buku yang bermanfaat, link-nya insya Allah saya post di halaman download e-book

    Semoga bermanfaat!
    Wassalam

  6. 18 Oktober , 2009 pukul 11:26 am

    amin maga bermanfaat bagi kita semua

  7. 18 Oktober , 2009 pukul 11:29 am

    mas,, kalo bisa tampilkan gambar-gambar perjuangan masyarakat kosovo dunk..!! thanks


Tinggalkan Balasan




Periwitan Twitter

  • Bismillah. Kawan, banyak saudara kita yang akan balik dari haji, yuk siap2 menyambut mereka dan meminta doa melalui mereka. SERBU..!!-@-1 day ago
  • Gawe opo koen didadekno presiden?Mbecak karo aq ae cak nang malang.Badan iso sehat, ora ginuk2 koyok awake dhewe saiki...-@-1 week ago
  • Yuk jd pribadi yg mandiri.Agr brmanfaat bg negeri.Tdk spt pjabat2 yg cm brani brsumpah bakti,pdhl krjany cm brkonflik tiada henti-@-1 week ago

Selamat Datang

Diriku

Hai semua....

Kawan, untuk menjaga tali silaturahim, saya mohon kawan-kawan yang sudah mampir sudi untuk membaca ATURAN MAIN dan meninggalkan sedikit jejaknya di RUANG TAMU saya. Saya sangat menghargai kunjungan kawan-kawan ke sini. Terima Kasih.

OIA, bagi kawan-kawan yang kesulitan mencari tulisan-tulisan saya di Pelarian, gunakan saja fasilitas di bawah ini.

Selamat Berlari...

Other languages

For English version click here.

For Arabic version click here.

Just try it and I bet you'll be laughing.

(BTW, it needs a fast internet connection)

Langganan Isi SitusQ

Tanggal Posting

Oktober 2007
S S R K J S M
« Sep   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Kategori Tag

RSS EraMuslim

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Antara – Nasional

  • Masyarakat Perlu Awasi Perjalanan Angket Century 30 November , 2009
    Seorang aktivis mengatakan masyarakat perlu  ikut mengawasi perjalanan angket kasus Bank Century yang sedang berlangsung di DPR.
  • TNI AL Tangkap Dua Kapal Tak Berdokumen 30 November , 2009
    Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI-AL) dari jajaran Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) berhasil menangkap dua kapal yang tak memiliki dokumen resmi.
  • Pendiri PMII Said Budairy Wafat 30 November , 2009
    Sekjen PB Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Zaini Shofari di Jakarta Senin malam mengungkapkan salah satu pendiri organisasi mahasiswa itu pada tahun 1960 Said Budairy meninggal dunia hari ini.
  • Duta Khusus Vatikan Bertemu Sultan 30 November , 2009
    Duta Khusus Vatikan, Kardinal Jean Louis Taurant bertemu Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X di Gedhong Jene, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat di Yogyakarta, Senin.
  • Komnas PA :UN Harus Ditangguhkan 30 November , 2009
    Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak (PA) meminta pemerintah menangguhkan pelaksanaan ujian nasional (UN), hingga sistem dan standard pendidikan diperbaiki agar memadai.
  • Ada Puskesmas Khusus Narkoba di Surakarta 30 November , 2009
    Pemerintah Kota Surakarta mendirikan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) khusus untuk mengobati pasien yang mengalami ketergantungan pada narkotika dan obat-obatan berbahaya (Narkoba).
  • Korban Tewas Dumai Express Bertambah Seorang 30 November , 2009
    Korban tewas pada peristiwa tenggelamnya MV Dumai Express 10 di Perairan Tukong Iyu, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau, Minggu (22/11), bertambah satu orang.
  • Siswa SMA Anggota Geng Motor Diringkus 30 November , 2009
    Jajaran Polsekta Andir, Kota Bandung, Jawa Barat, menangkap seorang anggota geng motor berinisial A yang masih menggunakan seragam SMA di kawasan Margahayu, Kabupaten Bandung.
  • Keluarga Korban Hilang Minta Dumai Express Diangkat 30 November , 2009
    Keluarga penumpang yang masih hilang akibat Kapal Motor Dumai Express 10 tenggelam di perairan Karimun, Kepulauan Riau, mengharapkan bangkai kapal tersebut diangkat dari dasar laut.
  • Bawaslu Desak KPU Segera Sepakati Surat Edaran Bersama 30 November , 2009
    Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) mendesak Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk segera membahas dan menyepakati surat edaran bersama (SEB) tentang pembentukan sejumlah panitia pengawas (Panwas) Pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2010.

RSS BBC Indonesia

  • Kasus Bibit-Chandra dihentikan
    Kejaksaan Agung akan menerbitkan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan atas kasus Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Rianto.
    http://www.bbc.co.uk/indonesian/
  • Fiji harus pulihkan demokrasi
    Pemimpin Persemakmuran mendesak penguasa militer Fiji untuk memulihkan demokrasi dan menjamin hak asasi manusia dilindungi.
    http://www.bbc.co.uk/indonesian/
  • Ito gantikan Susno Duadji
    Kabareskrim Mabes Polri Komjen Susno Duadji hari Senin resmi dicopot dari jabatannya dan digantikan Irjen Ito Sumardi.
    http://www.bbc.co.uk/indonesian/
  • Bank Dubai diberi dana baru
    Bank Sentral Uni Emirat Arab menyatakan akan menawarkan likuiditas tambahan sementara bursa saham Dubai siap dibuka hari ini.
    http://www.bbc.co.uk/indonesian/
  • Iran bangun 10 reaktor nuklir
    Pemerintah Iran menyetujui rencana membangun 10 pabrik pengayaan uranium yang baru, demikian laporan media pemerintah.
    http://www.bbc.co.uk/indonesian/

RSS New York Times

Berapa Pengunjung?

  • 170,660 Orang

Sedang On Line

Dari mana?

Posisimu?

Perlindungan

Creative Commons Licence


Secara umum, semua karya yang tertampil di dalam situs PELARIAN -kecuali yang tidak dinyatakan demikian- adalah opini pribadi, tidak ada sangkut pautnya dengan organisasi apapun, dan dilindungi oleh Lisensi dari Creative Commons Attribution-Noncommercial 3.0 Unported License.

Untuk lebih jelasnya, silahkan buka halaman Aturan Main.

Salinan dari lisensi ini bisa didapatkan melalui, halaman web ini atau mengirimkan surat kepada Creative Commons, 171 Second Street, Suite 300, San Francisco, California, 94105, USA.