Bangsa Amerika kini sedang dalam sorotan. Reaksi bangsa Amerika menyusul aksi terorisme di New York dan Washington DC (11/9) menunjukkan gambaran yang lebih jelas tentang karakter khas bangsa itu. Sebagaimana diketahui, bangsa Amerika tidak mau menerima perlakuan teror itu, marah, menyatakan diri untuk membalas para teroris, lalu sejak Minggu (6/10) menyerang secara membabibuta Afghanistan.
Balasan itu sudah diperkirakan dan dikhawatirkan menimbulkan masalah dan kerumitan baru, serta dampaknya memperburuk hubungannya dengan negara-negara lain. Ketika aksi balasan itu diwujudkan, maka simpati yang selama ini diperoleh bangsa AS sebagai korban teror berubah menjadi antipati. Demonstrasi besar-besaran terjadi di mana-mana, menentang penyerangan itu.
Namun, para pemimpin bangsa Amerika tampaknya tidak mempedulikan reaksi-reaksi dari luar yang lebih merugikan dirinya. Di tengah protes, kritik dan kutukan terhadapnya, AS tetap saja menyerbu sasaran-sasarannya di Afghanistan.
Mengapa bangsa Amerika bersikap demikian? Latarbelakang kultural-psikologik apa yang mendasari reaksi-reaksinya? Secara metodologis, memang sulit menggambarkan karakter khas suatu bangsa, apalagi bangsa yang amat besar dan kompleks seperti Amerika.
Namun, beberapa ahli –kebanyakan sastrawan– telah berusaha mencari akar kultural-psikologik bangsa Amerika itu, dan memang cukup berhasil menggambarkan karakter khas bangsa itu. Dari pencarian itu muncullah metapora dan kata-kata kunci untuk pemahaman tentang bangsa Amerika seperti chosen people, manifest destiny, frontier spirit, pragmatism, machoism, people of paradox, dan people of plenty.
Generasi pertama bangsa Amerika adalah kaum Puritan yang pada dasarnya merasa dirinya sebagai orang-orang terpilih (chosen people), suatu metapora dari Kitab Suci agama Kristen yang menunjuk sekelompok orang khusus yang merasa dipilih oleh Tuhan untuk menyelamatkan dan memperbaiki orang-orang lain dan dunia.
Atas dasar metapora chosen people itu muncullah istilah manifest destiny, juga suatu metapora yang berarti nasib atau tugas utama atau pembenaran kepada orang-orang terpilih itu untuk menaklukkan alam sekitar guna meningkatkan hidup dan martabat orang lain. Metapora manifest destiny ini ditemukan dan dikemukakan kembali oleh John L O’Sullivan dalam Democratic Review (1845), yang menyebutkan: “justification of the occupation on the ground of the will of God.”
Tentu saja, mereka yang merasa sebagai chosen people itu tidak mempersoalkan proses dan cara-cara yang ditempuh, tetapi hanya meyakini bahwa tujuannya baik, walau proses dan caranya tidak adil, tidak baik, atau tidak manusiawi.
Pada bangsa Amerika di awal pembentukannya, pelaksanaan manifest destiny mendapat wilayah dan medan yang sangat menantang untuk ditaklukkan, yaitu wilayah tengah dan Barat benua Amerika. Film-film western, koboi atau iklan Marlboro banyak menggambarkan bagaimana orang-orang Amerika dari Pantai Timur menaklukkan orang-orang (Indian) dan alam di wilayah tengah dan Barat, secara kekerasan fisik dan machoic. Tidaklah dipungkiri bahwa penaklukan itu sebenarnya didasari kepentingan material-ekonomi mencari hal-hal fisik seperti tanah, emas, kekayaan dan sumber-sumberdaya kehidupan yang lain.
Akibatnya, batas-batas fisik-teritorial bangsa Amerika terus membesar. Namun, tetap saja nenek moyang bangsa itu terus berusaha melebarkan batas-batas fisik-teritorialnya. Ketika suku-suku bangsa Indian sudah tersingkir dan setiap jengkal tanah di benua itu sudah terkuasai, frontier spirit itu terus mencari sasaran baru secara terus-menerus.
Menurut Frederick Jackson Turner, dalam makalah “The Significance of the Frontier in American History” (1893), penaklukan demi penaklukan itu didasarkan dan menciptakan suatu psikologi tertentu yang disebut frontier spirit, yaitu semangat berpetualang untuk selalu menghadapi dan menaklukan sesuatu yang menantangnya. Turner menyatakan bahwa frontier spirit itu membentuk karakter khas Amerika.
Hanya dengan tantangan itu bangsa itu bisa merasa hidup. Atau hanya dengan kepuasan atau kemenangan atas penaklukan tantangan itulah daya hidup bangsa Amerika dipelihara. Sebaliknya, tanpa tantangan bangsa itu akan bingung sendiri, dan berusaha mencari tantangan baru lagi. Tanpa kepuasan dan aroma kemenangan Kemudian diketahui bahwa tantangan itu tidak harus hanya tantangan fisik, tetapi juga nonfisik, seperti ideologi.
Kemampuan bangsa itu mengatasi persoalan-persoalan yang timbul dalam petualangan disebabkan terutama oleh sikap dasarnya menghadapi realitas yang pragmatis. Pragmatisme adalah filsafat tentang tindakan dan kegunaan praktis. Ketika filsof pragmatisme, William James, menerbitkan buku Pragmatism (1907), ia sebenarnya menggali sesuatu yang mewakili pandangan, keyakinan dan sikap asli bangsa Amerika yang telah lama mengkristal tentang hidup dan dunia.
Hasilnya memang membuktikan bahwa bangsa Amerika menjadi serba kecukupan, bahkan berlebihan (affluent society atau people of plenty). Ukuran serba besar, serba banyak, dan serba kecukupan itu menciptakan karakter khas terhadap anggota bangsa itu, seperti lebih merasa bebas dan berani bereksperimen, berani melakukan tindakan-tindakan yang spektakuler, karena kegagalan atau dampak negatif dari eksperimen dan tindakannya tidak akan mengancam kehidupannya itu. Ibaratnya, anak orang kaya cenderung lebih berani meminjam mobil temannya karena bila pun mobil itu rusak atau hilang, orang tuanya akan bisa menanggungnya; sedangkan anak orang miskin cenderung tak berani pinjam mobil karena takut risiko rusak atau hilang.
Uraian singkat di atas menjelaskan bahwa pada dasarnya bangsa Amerika senang kekerasan terutama yang bersifat fisik, merasa benar sendiri, tidak mau mendengarkan kritik dan kecaman dari luar. Apa yang dilakukan pemerintah AS sekarang ini menunjukkan karakter dasar bangsa itu.
Teroris yang menghancurkan gedung WTC dan Petagon menggetarkan sifat-sifat dasar yang dimiliki bangsa Amerika. Teroris itu menjadi tantangan (frontier) yang harus ditaklukkan dengan gaya fisik-koboi dan aroma kemenangan bangsa. Risiko dihujat dan dikutuk di mana-mana tentulah sudah diperhitungkan, tetapi pragmatisme –yang memperkirakan dampaknya tidak akan mengganggu keamanan dalam negerinya– memberi peluang untuk tetap menyerang Afghanistan.
Namun, perlu disadari bahwa penjelasan tentang karakter dasar bangsa Amerika ini penuh dengan penyederhanaan, hanya garis besar, yang tidak bisa menjelaskan keseluruhan bangsa Amerika. Beberapa filsof lain menunjukkan sikap dasar bansga Amerika yang tidak seperti itu.
Misalnya, Jean de Crevecoeur, dalam Letters from an American Farmer (1782), menyatakan bahwa bangsa Amerika itu dasarnya berbudaya petani, yang merasa mandiri, tak mau perang (pasifis), dan tidak mau berurusan dengan luar negeri. Lalu, Henry D Thoreau dalam Walden (1854) menyatakan bahwa hidup di Amerika bisa dijalani dengan sangat sederhana (simplicity). Dan Michael Kammen, dalam People of Paradox, menyatakan bahwa pada dasarnya bangsa Amerika adalah bangsa yang penuh paradoks.
Namun perlu dicatat bahwa Crevecoeur menuliskan esainya pada awal kemerdekaan AS atau sebelum industrialisasi berkembang di Amerika, sementara tulisan Thoreau sebenarnya hanyalah counter-culture yang mereaksi kecenderungan umum dari pola hidup ekspansif dan boros dalam proses industrialisasi yang sedang berkembang pada pertengahan abad ke-19 itu. Artinya, budaya petani sudah bukan unsur penopang budaya bangsa Amerika, dan kehidupan sederhana (simplicity) hanyalah teriakan parau yang singkat dan lemah –sebagai protes– di tengah-tengah kecenderungan hidup yang boros dan rumit.
[Basis Susilo]


semua negara punya karakter berbeda begitu jg amerika.gagasan atau prinsip yg menurut mereka sesuai.yg menentukan semuanya adalah landasan brpijak
umur sy 21
ka’ tlng donk dbwtkan poin2x karakteristik benua Amerika seperti:kenampakan alamx,dll
Mkash……………….
saya benar2 mencari rangkuman ips tentang amerika??]
kok gini???
bagus kokQ